Breaking News

Blogger templates

Blogger templates

Blogroll

Template Information

Wavy Tail

Wednesday, October 16, 2013

KARYA ILMIAH REMAJA (“Pengaruh Pengolesan Minyak Kelapa terhadap Pengawetan Telur Ayam”)




                                                                             
                                        D
                                        I
                                        S
                                        U
                                        S
                                        U
                                        N
 
  OLEH:
MUHAMMAD THAUFIQ HIDAYAT
KELAS AKSELERASI I
SMP NEGERI 6 SENGKANG UNGGULAN KAB.WAJO
 
TAHUN PELAJARAN 2013



KATA PENGANTAR

                Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah  SWT, atas Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga KIR (Karya Ilmiah Remaja) ini dapat terselesaikan.
          Karya Ilmiah ini kami susun dengan pendekatan yang sudah dikenal didalam kehidupan sehari-hari tentang “Pengaruh Pengolesan Minyak Kelapa terhadap Pengawetan Telur Ayam.
          Dalam proses penyusunan KIR ini penulis telah banyak mendapatkan sebuah pengetahuan baru sebagai sebuah proses mendapatkan keidealan berfikir dan bersikap, meskipun sebuah perjuangan itu tidak selamanya dipertemukan dengan bunga mawar yang indah,  tetapi sebuah perjuangan juga akan mendapatkan kerikil-kerikil tajam yang sekali – kali akan menjadi penghalang, tetapi penulis tetap yakin akan banyak orang yang akan tetap memberikan senyumannya untuk melalui perjuangan tersebut.
Pada kesempatan ini perkenangkan penulis untuk mengucapkan terimah kasih kepada Dra.Hj.Andi Ebe,M.Pd yang telah membimbing kami sehingga KIR  ini dapat tersusun.
Penulis menyadari sepenuhnya, KIR ini masih jauh dari kesempurnaan  dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan  demi kesempurnaan penyusunan dan penulisan KIR ini.
Akhirnya kepada Allah jualah kiranya penulis memohon dan berdoa semoga kebaikan dan bantuan yang diberikan semua pihak kepada penulis mendapat imbalan.

Sengkang ,  Februari 2013

                                                                                      Penulis


DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR                                                                                   
DAFTAR ISI                                                                                                
BAB I    PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang                                                                          
1.2.  Rumusan Masalah                                                                   
1.3.  Tujuan Penelitian                                                                     
1.4.  Hipotesis                                                                                  
1.5.  Manfaat Penelitian                                                                  
1.6.  Definisi Operasional Variabel                                                  
BAB II   PEMBAHASAN
2.1. Kualitas Telur                                                                           
2.2. Komposisi Telur                                                                       
2.3. Jenis Penelitian                                                                        
2.4. Obyek Penelitian                                                                              
2.5. Tempat dan Waktu Penelitian                                                      
2.6. Prosedur Penelitian                                                                       
2.7. Instrumen Pengumpulan Data                                                     
2.8. Teknis Analisis Data                                                                       
2.9. Pengawetan Telur                                                                         
2.10. Analisis Hasil                                                                                 
BAB III PENUTUP
               3.1. Kesimpulan                                                                            
               3.2. Saran                                                                                      

DAFTAR PUSTAKA                                                                                   


BAB  I
 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Daya simpan telur, khususnya telur ayam, amat pendek. Oleh karena itu perlu diperlakukan secara khusus jika ingin telur bisa disimpan lebih lama, apalagi bila menginginkan kondisi telur berada dalam keadaan segar. Salah satu upaya memperpanjang kesegaran telur adalah dengan mengawetkannya. Pengawetan telur segar sangat berguna dalam upaya mengatasi saat-saat harga telur tinggi. Untuk itu dicarilah upaya pengawetan telur yang mudah, sederhana, dan irit biaya.
Dalam upaya pengawetan telur ayam yang dilakukan masyarakat, terdapat berbagai cara dan yang paling umum adalah menaruhnya di lemari es. Namun bagi masyarakat kurang mampu yang tidak memiliki lemari es, maka mereka ada yang mengolesi dengan kapur, ada pula yang mengolesi dengan minyak curah, ada pula yang mengolesi dengan minyak kelapa.
Oleh karena pada penelitian ini akan dikaji bagaimana cara pengawetan telur ayam yang dapat lebih bertahan lama dari berbagai cara pengawetan telur ayam, dengan bahan-bahan yang mudah didapat di desa terpencil dan murah sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat Desa Lempa.
          Telur dapat bertahan lama pada suhu yang dingin, misalnya dengan menaruhnya di lemari es. Sedangkan di desa terpencil dan sekitarnya, penduduk yang memiliki lemari es sangat sedikit. Apalagi pada musim kemarau, telur sulit untuk bertahan lama. Akibatnya penduduk desa terpencil dan sekitarnya kesulitan mengawetkan telur agar tetap segar.
Adapun tahapan pelelitian ini  1) Mengumpulkan data berkaitan dengan pengawetan telur dari literature   2) Observasi atau uji coba pengawetan telur   3) Anasisis data  dan  menyimpulkan hasil penelitian
          Tertarik dengan permasalah tersebut, peneliti berusaha melakukan studi tentang pengawetan telur yang mudah dan bahan-bahan yang sekiranya mudah didapat dan murah.  
Hasil penelitian menunjukkan bahwa telur ayam yang diolesi minyak kelapa bisa bertahan baik teksturnya maupun kandungan gizinya hingga delapan minggu atau dua bulan
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.     Bagaimana cara atau upaya mengawetkan telur dimasukkan ke dalam lemari es, melalui pemanfaatan bahan-bahan yang ada di desa terpencil dengan tidak mengeluarkan banyak biaya?

2.     Apa saja bahan yang diperlukan untuk pengawetan telur?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian karya ilmiah ini bertujuan:
1.     Mencari upaya lain dalam pengawetan telur, khususnya pada masyarakat yang belum memiliki alat pendingin seperti lemari es
2.     Mencoba melakukan kegiatan ilmiah sebagai solusi menjawab persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, khususnya di desa terpencil.
Adapun manfaat penelitian ini amat berguna bagi masyarakat, karena bisa mengawetkan telur segar lebih lama, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
1.4. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah: “Jika telur ayam diolesi dengan minyak kelapa maka akan dapat bertahan lebih lama dan akan tetap segar”.
1.5. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini amat berguna bagi masyarakat, karena bisa mengawetkan telur segar lebih lama, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Sedangkan bagi peneliti sendiri untuk menambah wawasan keilmuan.
1.6. Definisi Operasional Variabel
Pada penelitian tersebut variabel bebas atau penyebabnya adalah pengolesan minyak kelapa. Untuk variabel terikat atau akibatnya adalah pengawetan telur ayam segar. Sedangkan variabel kontrolnya adalah telur dibiarkan (tanpa diolesi). Sebagai pembanding digunakan pengolesan telur dengan air kapur.



BAB  II
 PEMBAHASAN
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kualitas Telur
Kualitas telur ditentukan oleh dua faktor, yakni kualitas luarnya berupa kulit cangkang dan isi telur. Kualitas luar ini bisa berupa bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit cangkang. Sedangkan yang berkaitan dengan isi telur meliputi kekentalan putih telur, warna dan posisi telur, serta ada tidaknya noda-noda pada putih dan kuning telur.
Dalam kondisi baru, kualitas telur tidak banyak mempengaruhi kualitas bagian dalamnya. Jika telur tersebut dikonsumsi langsung, kualitas telur bagian luar tidak menjadi masalah. Tetapi jika telur tersebut akan disimpan atau diawetkan, maka kualitas kulit telur yang rendah sangat berpengaruh terhadap awetnya telur.
Kualitas isi telur tanpa perlakuan khusus tidak dapat dipertahankan dalam waktu yang lama. Dalam suhu yang tidak sesuai, telur akan mengalami kerusakan setelah disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan kocaknya isi telur dan bila dipecah isinya tidak mengumpul lagi.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, misalnya Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf (1991), dan Antonius Riyanto (2001), dinyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman meningkat. Penguapan yang terjadi juga membuat bobot telur menyusut, dan putih telur menjadi lebih encer. Masuknya mikroba ke dalam telur melalui pori-pori kulit telur juga akan merusak isi telur.
Telur segar yang baik ditandai oleh bentuk kulitnya yang bagus, cukup tebal, tidak cacat (retak), warnanya bersih, rongga udara dalam telur kecil, posisi kuning telur di tengah-tengah, dan tidak terdapat bercak atau noda darah.
2.2. Komposisi Telur
Telur ayam pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram perbutirnya, yang terdiri dari 11% bagian kulit telur, 50% bagian putih telur, 31% bagian kuning telur.
Telur adalah sumber protein bermutu tinggi, kaya akan vitamin dan mineral. Protein telur termasuk sempurna, karena mengandung semua jenis asam amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh manusia, karena tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari makanan yang dimakan.
Telur juga mengandung vitamin A, vitamin B Kompleks, dan vitamin D. Di samping itu telur juga mengandung sejumlah mineral seperti zat besi, fosfor, kalsium, sodium, dan magnesium dalam jumlah yang cukup. Semua unsur ini sangat penting guna meningkatkan pertumbuhan tubuh pada anak-anak dan remaja. Anak balita setiap hari membutuhkan kurang lebih 15 gram protein hewani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi apabila anak balita mengkonsumsi 2 butir telur ayam perhari. Protein sangat dibutuhkan untuk membangun sel tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Itulah sebabnya telur sering diberikan kepada anak kecil untuk membantu pertumbuhan badan, dan kepada orang yang dalam proses penyembuhan guna mengganti sel tubuh yang rusak..






Komposisi zat gizi telur ayam dalam 100 gram
1. Kalori (kal) : 162,0
2. Protein (g) : 12,8
3. Lemak (g) :11,5
4. Karbohidrat (g) : 0,7
5. Kalsium (mg) : 54,0
6. Fosfor (mg) : 180,0
7. Besi (mg) : 2,7
8. Vitamin A : 900,0
9. Vitamin B : 0,1
10. Air (g) : 72
Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1979

Semua gambaran di atas amat penting dijelaskan, betapa telur memiliki banyak elemen penting yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan penggantian sel tubuh manusia.




METODOLOGI  PENELITIAN

2.3. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang  digunakan adalah studi kepustakaan dan observasi, yaitu data-data diperoleh dari berbagai buku atau tulisan serta dari hasil obsevasi.
2.4.Obyek Penelitian
Adapun  obyek  penelitian  ini adalah telur ayam yang diolesi oleh minyak kelapa.

2.5.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Lempa Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo.  Adapun waktu penelitian selama tiga bulan, yaitu mulai bulan Januari 2013 sampai dengan  Maret 2013.

2.6.Prosedur Penelitian
Adapun langkah-langkah dan prosedur dalam penelitian ini meliputi :
a.     Melakukan studi pendahuluan, yaitu kegiatan pengumpulan informasi yang meliputi penelaahan literatur berkenaan dengan kualitas dan komposisi telur ayam, dan observasi lapangan untuk mengumpulkan informasi berkaitan dengan upaya pengawetan telur ayam;
b.     Menyusun draf rancangan awal upaya pengawetan telur ayam dengan mempertimbangkan temuan-temuan hasil studi pendahuluan.
c.      Mengadakan uji coba, meliputi uji coba pengolesan telur ayam dengan minyak curah, pengolesan dengan kapur, pengolesan dengan minyak kelapa dan telur dibiarkan (tanpa diolesi apa-apa).
d.     Melakukan analisis dari hasil uji coba di atas dan mengambil kesimpulan.
2.7.         Instrumen Pengumpulan Data
1. Pengumpulan data kepustakaan dan bahan/alat yang berkaitan dengan objek penelitian
2. Melakukan observasi (pengamatan) untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil yang didapat dari uji coba yang dilakukan
3. Melakukan analisis dan kesimpulan dari hasil uji coba
2.8.Teknis Analisis Data 
Penyusunan tulisan ini berdasarkan metode deskriptif analisis, yaitu data-data yang terkait dengan permasalahan baik dari kepustakaan maupun observasi akan dideskripsikan (ditampilkan) sedemikian rupa kemudian dianalisis secara deduktif, induktif dan komparatif.



CARA KERJA PENGAWETAN TELUR
2.9. Pengawetan Telur
1. Alat dan bahan
Pegawetan telur ayam diteliti dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:
a.     Telur
b.     Kapur
c.      Kelapa
d.     Parutan kelapa
e.      Panci
f.       Kertas
g.     Spidol
h.     Saringan kelapa
i.       Wajan dan susuk
j.       Kompor
k.     Minyak tanah
l.       Korek api
m.  Kuas kecil
n.     Air
o.     Wadah
p.    Minyak curah



2. Cara Kerja
Untuk menilai pengawetan telur ayam dilakukanlah pengujian mulai tanggal 25 Pebruari 2011 sampai 8 April 2011, dengan melakukan perbandingan untuk menilai kesegaran telur-telur tersebut setelah beberapa hari kemudian. Perbandingan itu dengan cara mengelompokkan telur-telur tersebut ke dalam 4 kelompok, sebagai berikut:
a.     Kelompok telur I: Telur diolesi minyak curah
Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan. Selanjutnya telur diolesi minyak curah dengan memakai kuas kecil. Setelah itu telur disimpan di tempat kering. Selama disimpan telur diusahakan tidak dipegang atau digoyang-goyang.
b.     Kelompok II: Telur diolesi dengan air kapur
Kapur diberi air dan diaduk. Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu. Setelah itu telur diolesi air kapur dengan menggunakan kuas kecil.
Pengawetan dengan air kapur ini sebagai pembanding model pengawetan lainnya, karena kita mengetahui bahwa cangkang telur terdiri dari zat kapur.
c.      Kelompok III: Telur diolesi minyak kelapa
Langkah pertama kelapa dikupas dan diparut. Selanjutnya parutannya diremas-remas sambil ditambah air secukupnya. Hasilnya adalah berupa santan. Santan itu kemudian direbus selama kurang lebih 3 jam. Setelah menjadi minyak, pisahkan minyak tersebut dari ampasnya.
Tahap berikutnya ambil telur dan dicuci. Kemudian telur diolesi minyak kelapa dengan menggunakan kuas kecil. Biasanya, 1 liter minyak kelapa bisa digunakan untu mengawetkan telur sekitar 70 kg.
d.     Kelompok IV: Telur dibiarkan (tanpa diolesi apa-apa)
Setelah telur dicuci, telur disimpan di tempat kering. Selama proses penyimpanan telur tidak boleh dipegang ataupun digoyang.

2.10. Analisis Hasil
Dari hasil pengamatan diperoleh hasil, bahwa telur ayam yang diolesi minyak kelapa dapat bertahan kesegarannya selama 2 bulan atau 8 minggu. Sedangkan telur yang diolesi minyak curah bagian kuning telur sudah tidak utuh, membusuk, dan berbau.
Untuk telur yang diolesi air kapur, kuning telurnya tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau. Demikian pula pada telur yang dibiarkan (tanpa diolesi) kesegarannya hanya bertahan 1 minggu, setelah itu kuning telurnya sudah tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau.


BAB  III
 PENUTUP
2.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa cara pengawetan telur ayam segar selain dimasukkan lemari es, dapat pula dilakukan mengolesi telur dengan minyak kelapa. Pengolesan telur ayam dengan minyak kelapa mampu mempertahankan kesegaran telur selama 8 minggu atau 2 bulan.
Pengawetan telur dengan minyak kelapa tidak hanya mampu mempertahankan kesegaran telur, tapi juga mampu mempertahankan keutuhan nilai gizinya. Hal ini amat menguntungkan, karena selain prosesnya mudah juga irit dalam biaya.




2.2. Saran
1. Dalam membeli telur pilihlah telur yang baik, yaitu telur yang memiliki ukuran dan bentuk yang proporsional
2. Sebelum telur disimpan untuk mempertahankan kesegarannya telur dicuci bersih terlebih dahulu agar tidak terinfeksi bakteri
3. Sebaiknya telur yang diawetkan disimpan dalam rak
4. Masyarakat kiranya perlu mencoba melakukan upaya agar telur tetap dalam keadaan segar dengan cara diolesi minyak kelapa, karena bisa mempertahankan kesegaran telur dengan biaya murah.


DAFTAR PUSTAKA
Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Reseach. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.
Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta: Kanisius.
Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: Andromedia Pustaka



No comments:

Post a Comment

Designed By Thaufiq